Sabtu, Maret 28, 2009

"Tarsius Hewan Endemik Sulawesi"

Tak bisa dipungkiri bahwa lokasi Indonesia di daerah tropik dan keragaman floranya sangat mendukung kehidupan satwa yang ada di dalamnya. Tidak mengherankan jika Indonesia merupakan salah satu negara dengan ragam jenis primata terkaya di Dunia. Dari 195 jenis primata yang diketahui 40 jenis ditemukan di Indonesia, dan 24 jenis diantaranya merupakan satwa endemik.
Salah satu pulau yang memegang peranan penting dalam penyebarann jenis primata di Indonesia yakni Sulawesi dengan 12 jenis Primata endemik, salah satunya adalah marga Tarsius.

Tarsius
dikenal masyarakat Sulawesi sebagai binatang hantu karena berukuran tubuh kecil dengan mata yang lebar (bolak) dan aktif melakukan kegiatan pada malam hari (nokturnal). Tarsius berukuran tubuh mungil dengan berat 110-120 gr dengan panjang tubuh 115-120 mm. Hewan ini bisa dijumpai di hutan-hutan primer, sekunder bahkan di perkebunan tepi hutan. Tarsius adalah hewan pemangsa berbagai jenis serangga, dengan keunikan hewan ini sebagain besar termasuk hewan yang setia pada pasangannya (monogamus).Tarsius juga hidup secara berkelompok pada pohon-pohon atau semak-semak tetapi tidak bersarang, bergerak dengan meloncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. berkomunikasi dengan menggunakan suara yang nyaring terhadap kelompoknnya. Hewan ini aktif mencari makan menjelang malam dan pada waktu subuh. Waktu istirahat digunakan pada siang hari. Tarsius meninggalkan air seni pada tempat-tempat yang disinggahi sebagai tanda wilayah kekuasaannya.

Ada beberapa jenis tarsius endemik di bumi Sulawesi antara lain: Tarsius Spectrum,
yang dapat di temui di (Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah,Cagar alam tangkoko Sulawesi Utara), Tarsius dianae,Tarsius pumilus yang dapat di temui di (Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah dan di gunung Latimojong Sulawesi Selatan), Tarsius sangiriensis yang hanya bisa di jumpai di (Sangihe dan Talaud Sulawesi Utara).

Tarsius belum dapat dipastikan jumlah populasinya pada Hutan Tropis Sulawesi karena kurangnya data.
Menurut salah seorang pemerhati lingkungan Saudara Rumiyanto S.Pd, Tarsius dapat juga di jumpai di tepi-tepi hutan Kabupaten Buol ini menandakan bahwa hampir semua kawasan hutan khususnya Sulawesi Tengah dihuni Tarsius.
seperti halnya hewan primata endemik Sulawesi lainnya satwa ini dilindung dengan UU No 5 tahun 1990, "Hewan ini dilindung baik di kawasan hutan konservasi maupun di luar kawasan hutan konservasi".

Ancaman utama penurunan populasi Tarsius antara lain akibat dari perb
uruan dan kegiatan penangkapan dan tidak kalah pentingnya adalah hilangnya habitat alam asli yang diakibatkan oleh penebangan, perambahan hutan dan berubahnya hutan menjadi lahan perkebunan serta kurangnya informasi kepada masayarakat tentang keberadaan hewan primata endemik Sulawesi ini sehingga masyarakat tidak menyadari ternyata hewan yang ditemui secara kebetulan di hutan-hutan tropik Sulawesi adalah hewan Primata endemik Sulawesi.

Mari kita upayakan konservasi !!! untuk melindungi aset yang berharga ini di Bumi Sulawesi. (abang Asho).

Jumat, Maret 20, 2009

Bunglon Hewan Berwarna Warni

Bunglon merupakan salah satu reptil atau hewan bertulang belakang (vertebrata) yang sangat unik dari hewan "vertebrata lain pada umumnya dan reptil pada khususnya", bunglon dapat berubah-ubah warna disesuaikan pada tempatnya. Apabila hewan tersebut tidak terkontaminasi dengan manusia. Dengan perubahan warna tersebut hewan unik ini dapat mengelabui atau selamat dari pemangsa atau predator yang dapat merugikan dirinya. Bunglon memiliki ciri-ciri antara lain memiliki kepala (caput) yang berukuran kurang lebih 2 cm yang dilengkapi dengan mulut (rima oris), telinga (orgarun visus), mata dan lain sebagainya seperti pada reptil-reptil lainnya, memiliki badan yang panjangnya kira-kira 8-12 cm tergantung kedewasaan hewan tersebut, tetapi panjang standar badan adalah 12 cm, yang dilengkapi dengan sirip belakang (pinna dorsalis). Ktika hewan ini terancam oleh predator maka adrenalinnya akan berkontraksi yang akan dihantarkan dengan memperlihatkan atau berdirinya pinna dorsalis (sirip belakang) tersebut.
Bunglon memiliki ekor (caudal) yang lebih panjang dari tubuhnya yang berfungsi sebagai penangkap rangsang juga akan berkelok-kelok ketika ada predator yang panjangnya 25-30 cm yang dilengkapi dengan sisik (squama).
Bunglon Lore yang dilengkapi dengan kaki yang unik, berbeda dengan kaki Toke (gecko gecko), dimana kakidepan pendek dan belakang agak panjang juga memiliki jari-jari yang panjang dan kecil, berfungsiuntuk melekat atau berpegang pada tempatnya. Bunglon atau hewan berubah-ubah warna ini dapatditemukan di ketinggian sekitar 1500-2000 mdpl. yang banyak ditemukan di daerah Taman NasionalLindu (TNLL), yang kemungkinana masih banyak djenis-jenis lain yang tersebar di daerah tersebutbelum ditemukan manusia. Karena kurangnya perhatian masyarakat pada hewan warna warnitersebut juga dengan adanya pengrusakan hutan yang terjadi sekarang secara besar-besaran, makabisa saja hewan ini terancam punah. Dibutuhkan kepedulian kita semua untuk tetap menjagakelestarian hewan yang unik ini dengan upaya konservasi yang berkesinambungan.
"Jagalah Aku Maka Akan Kubuatkan Engkau Hati Yang Senang Dan Jiwa Yang Tenang Dengan Keindahan"
SALAM KONSERVASI!!!!!
(Nawi, Angk III BCC)

Selasa, Maret 10, 2009

Info Keanekaragaman Hayati Indonesia

Akhir tahun 2003, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia (BAPPENAS) mengeluarkan dokumen Nasional Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan-IBSAP, 2003-2020).
Dokumen Ini mempunyai keinginan mencapai sasaran terwujudnya masyarakat Indonesia yang peduli, berdaya dan mandiri dalam melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara optimal, adil dan berkelanjutan melalui pengelolaan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pertanyaannya sejauh mana masyarakat sadar akan keanekaragaman hayati bila mereka sendiri tidak mengenal maknanya? Selama ini, keanekaragaman hayati sepertinya menjadi menu kompleks pembicaraan aktivis lembaga swadaya masyarakat, akademisi dan kaum intelek saja. Padahal menurut harapan BAPPENAS, pemahaman terhadap keanekaragaman hayati harus segera di bawah ketingkat 'akar rumput'. Sehingga masyarakat mengerti makna dan manfaat sebenarnya keanekaragaman hayati.
Menurut Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), masyarakat Indonesia Menggunakan lebih dari 940 spesies liar sebagai bahan tanaman obat tradisional maupun modern, juga 100 spesies tumbuh-tumbuhan sebagai sumber karbohidrat, tidak urang dari 100 spesies kacang-kacangan, 450 spesies buah-buahan serta 250 spesies sayur termasuk jamur yang menjadi menu masyarakat sehari-hari. Selain itu ternyata ada 56 spesies bambu dan 150 spesies rotan yang memberi manfaat dan sumber pendapatan ekonomi.
Kekayaan keanekaragaman hayati untuk tumbuhan, misalnya juga di data oleh Yayasan Prosea (Plant Resources of South East Asia-Sumber Tanaman Asia Tenggara), yang mendeskripsikan kekayaan tanaman di Asia Tenggara dan menjadikannya buku hijau dengan jumlah 20 jilid buku. Secara keseluruhan ternyata 40 % nilai ekonomi dunia mengandalkan proses produk keanekaragaman hayati, yaitu yang terkait dengan industri farmasi, kesehatan, pangan, pertanian dan kosmetika yang mengarah pada komersialisasi.
Di Indonesia, menurut BAPPENAS penyusutan keanekaragaman hayati terjadi berbarengan dengan rusaknya hutan alam. Misalnya tahun 1999, didata dari 46,7 juta ha luas hutan produksi, hanya 41 % yang berupa hutan primer. Sedangkan kawasan hutan alam yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 43 juta ha, artinya sepertiga dari luas hutan Indonesia yang mengandung keanekaragaman hayati telah musnah. Sekarang ini, ditambah dengan laju rata-rata deforestrasi antara 1,6 hingga 2,4 juta ha/thn. Dengan demikian setiap saat Indonesia akan kehilangan stok genetic (plasma nuftah) keanekaragaman hayati yang dimiliki.

Jumat, Februari 06, 2009

Sumber Daya Alam Morowali Anugerah Atau Bencana?

Kebanyakan manusia memandang alam adalah barang dagangan yang menguntungkan dan manusia bebas untuk melakukan apa saja terhadap alam, sebaliknya manusia yang menyadari adanya keterkaitan antara dirinya dengan alam lingkungan akan memandang alam sebagai sahabat yang tidak bisa dieksploitasi secara semena-mena.
Masalah kemiskinan dan lingkungan adalah dua masalah yang saling berkaitan. Rendahnya kesejahteraan masyarakat dapat berpengaruh terhadap rusaknya kualitas lingkungan karena dalam upaya mempertahankan hidup orang cenderung merusak lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kab. Morowali salah satu kabupaten termuda di Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai kekayaan alam yang luar biasa, hasil hutan, laut, barang tambang baik gas, batubara, minyak dan nikel. Tersedianya SDA ini sangat menarik investor baik lokal maupun internasional, berangkat dari hal tersebut timbul kekhawatiran apakah dengan kekayaan sumberdaya alam ini sebagi anugrah atau malah sebaliknya sebagai bencana?
Perusahaan tambang raksasa dunia mulai menanamkan tajinya dibumi Morowali, kegiatan-kegiatan pendekatan pada PEMDA serta masyarakat lokal termasuk pemberian beasiswa terhadap pelajar dan mahasiswa, keterlibatan para akademisi dalam AMDAl (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Pendekatan ini tak lain dan tak bukan agar perusahaan mereka tidak mendapatkan perlawanan yang berarti untuk mendapatkan tender yang hasil akhirnya berujung pada keuntungan yang sangat besar terhadap perusahaan. Sangat disayangkan apabila pelajar, mahasiswa dan akademisi yang kita harapkan sebagai ujung tombak untuk melawan perusakan lingkungan telah dikondisikan sehingga tidak bisa berbuat banyak terhadap kejahatan lingkungan yang terjadi di Morowali. Marilah sama-sama kita renungkan kembali bencana yang terjadi ditahun-tahun yang lalu berupa banjir, tanah longsor yang banyak memakan korban baik itu harta benda maupun korban nyawa di bumi Morowali bertitik tolak dari hal tersebut setidaknya kita harus lebih bijak terhadap alam ini, karena tanpa eksploitasi terhadap SDA sudah terjadi bencana, bagaimana kalau terjadi eksploitasi kekayaan alam morowali secara besar-besaran? jawabannya adalah bencana yang lebih besar akan terjadi dan masyarakat miskin yang jadi korbannya.
Dampak kekayaan alam terhadap lingkungan hidup sudah harus mulai mendapat perhatian yang lebih besar, kepedulian terhadap lingkungan hidup harus secepatnya dimiliki oleh setiap penduduk agar setiap sumber daya alam yang dimanfaatkan mengalami pelestarian alamiah yang seimbang.
(asho)

Jumat, Januari 09, 2009

Selamat Datang di Kota Ebony

Untuk mencapai ’Kota Sehat’, keseimbangan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap Kabupaten/Kota perlu dijaga. Setiap warga mempunyai hak sekaligus kewajiban dalam pemenuhan kebutuhannya, secara jasmani maupun rohani, di mana salah satunya adalah hak untuk menikmati kenyamanan lingkungan hidup tropis perkotaan yang sejuk, nyaman, teduh, dan sehat. Agar dapat terwujud, diperlukan perencanaan tata kota yang baik, sehingga terdapat keseimbangan antara ruang terbangun dan tidak terbangun. Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan wilayah yang amat potensial dan dapat dikembangkan sebagai kawasan hijau kota, juga sebagai tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat akan sarana rekreatif dan estetika lingkungan, selain sebagai kawasan penyangga ekosistem perkotaan.

Keberadaan hutan kota sebagai salah satu bagian RTH (Ruang Terbuka Hijau) di kawasan perkotaan, menjadi semakin penting akibat tekanan kebutuhan lahan komersial di perkotaan, meningkatnya suhu udara, dan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan lingkungan serta ruang-ruang publik di perkotaan. Paradigma kota sehat dapat menjadi pilihan kontekstual untuk pembangunan hutan kota di Indonesia. Para perencana kota dalam hal ini pemerintah daerah Sulawesi Tengah harus mampu menyelesaikan permasalahan perkotaan secara komprehensif. Pemerintah daerah harus memiliki komitmen yang jelas dan konsisten terhadap kebijakan tata ruang yang telah ditetapkan bersama dalam peraturan daerah.

Sejalan dengan hal tersebut pemerintah daerah Sulawesi Tengah perlu perencanaan penghijauan kota yang berkesinambungan baik halaman rumah tinggal, halaman bangunan umum, seperti: perkantoran, kompleks hotel, rumah sakit, dan halaman pendidikan, jalan-jalan umum termasuk kampus perguruan tinggi, serta taman kota. Upaya penghijauan ini semestinya pemda tidak harus mengadopsi atau mencontek konsep-konsep kawasan hijau daerah lain di Indonesia, tetapi memberdayakan potensi dan karakteristik daerah sendiri termasuk tanaman-tanaman asli daerah yang nyata-nyata bisa hidup tanpa perlakuan khusus. Salah satu contoh tanaman asli daerah Sulawesi Tengah yang bisa dijadikan tanaman alternatif penghijauan adalah kayu hitam (Diospyros sp) atau lebih dikenal dengan nama Ebony. Dahulu Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah penghasil ebony (kayu hitam) kualitas nomor satu, yang merupakan sumber devisa unggulan Sulawesi Tengah, namun perlahan karena eksploitasi yang terus menerus tanpa mempertimbangkan daya dukung populasi kayu hitam (Diospyros sp) akhirnya tanaman asli daerah ini semakin jarang ditemui di hutan-hutan Sulawesi tengah, mengingat betapa besarnya nilai ekonomi dari kayu hitam ini selayaknya menjadi tanaman andalan untuk menghijaukan kota sekaligus mengembalikan citra propinsi Sulawesi Tengah sebagai Kota Ebony sekaligus sebagai upaya konservasi karena kayu hitam (Diospyros sp) termasuk tanaman yang sudah langka.

Namun hal ini bisa terlaksana apabila ada keseriusan pemerintah daerah bersama pemerhati lingkungan, civitas akademik serta masyarakat lokal sebagai ujung tombak dalam proses penanaman bahkan pemeliharaan. Kita menyadari bahwa proses penghijauan dengan tanaman kayu hitam tidaklah muda, mengingat kayu hitam termasuk tanaman yang butuh waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan berkembang. Apabila saat ini kita belum bisa menikmati rimbunnya kota palu dengan ebony, saya yakin dan percaya apabila hal ini bisa terlaksana dengan baik maka generasi berikutnya akan merasa nyaman, tentram melakukan aktifitas dengan disela-sela rimbunnya pohon ebony (Dospyros sp). Hal yang terpenting diharapkan kota yang kita cintai ini punya ciri khas dibanding kota-kota yang lain di Indonesia bahkan dunia sekaligus mengembalikan citra masa lampau sebagai kota ebony. Alangkah bangganya kita ketika melihat tulisan disetiap pojok kota dengan semboyan ”Selamat Datang di Kota Ebony”

Minggu, Desember 28, 2008

Nepenthes Yang Terusik

Pemerintah melalui undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem dan Peraturan pemerintah no. 7 tahun 1999 tentang jenis-jenis Tumbuhan dan satwa yang dilindungi melarang untuk dieksploitasi. Selain itu semua jenis Nepenthes masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered spesies of Flora Fauna (CITIES), berdasarkan kriteria internasional Union of Conservation of Nature dan Word Conservation Monitoring, Nepenthes digolongkan sebagai tanaman langkah. Tak disangkal bahwa Indonesia adalah merupakan negara yang memberi sumbangsih terbesar terhadap keragaman jenis spesies Nepenthes sp di dunia, dimulai dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan P. jawa. Di Sulawesi ditemukan 10 jenis Nepenthes yang tersebar di semua propinsi yang ada di Pulau Sulawesi. Sulawesi Tengah khususnya berdasarkan penelusuran penulis bersama Tim Ekspedisi Biologi Conservation Club (BCC) Tadulako hanya disekitaran Pegunungan Rorekatimbu saja di temukan 3 spesies Nepenthes, tidak menutup kemungkinan di daerah lain juga ditemukan jenis-jenis lain yang endemik. Kecintaan masyarakat terhadap tanaman hias menjadi penyebab terjadinya eksploitasi besar-besaran Nepenthes oleh masyarakat dari habitat alaminya yang berlangsung terus menerus tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan mengakibatkan terganggunya kehidupan Nepenthes baik populasi maupun jenis. Untuk itu saya mengajak kita semua terlibat langsung dalam upaya konservasi, baik konservasi in-situ pengawetan di dalam kawasan Suaka Alam dengan jalan membiarkan populasinya tetap seimbang menurut proses alami habitanya, ataupun melalaui konservasi ex-situ dengan jalan mengupayakan pengawetan di luar kawasan Suaka Alam dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan tersebut. Selain itu perlu upaya yang tidak kalah pentingnya yaitu memberikan informasi kepada masyarakat agar mereka tau apa dan bagaimana sebenarnya Nepenthes sp dan status hukum untuk melindungi keberadaanya dari tangan-tangan jahil yang menggganggu keberadaannya. Biarkanlah Nepenthes Hidup di Habitat Alaminya sebagai warisan yang tak ternilai harganya buat generasi mendatang.

Salam Lestari !!!!



Tiga’Pendekar’ Sulawesi Terancam Punah

Monyet (Macaca Sulawesi)

Macaca Sulawesi hanya terdapat di Sulawesi. Khusus Sulawesi Tengah terdapat tiga jenis, yaitu Macaca hecki atau dalam bahasa daerah buol disebut Dige dan Bangkale dalam bahasa dondo penyebarannya mulai dari provinsi Gorontalo sampai wilayah Sindue Kabupaten Donggala, Pantai Timur Kabupaten Parigi Moutong.

Di bukit Bale Kecamatan Banawa tiga tahun lalu masih terlihat bergerombol namun saat ini dengan dibukanya areal perkantoran sehingga tidak pernah terlihat lagi. Jenis Macaca Tonkeana yang biasa disebut ceba atau ibo (Napu), boti (Poso), penyebarannya cukup banyak di Sulawesi Tengah dari batas komunitas Macaca hecki di bagian Selatan hingga kekawasan Kabupaten donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai hingga ke sebagian wilayah Sulawesi Selatan (Palopo Utara). Hidup dalam hutan sampai ketinggian 1800 mdpl. Makanannya berupa pucuk daun, jagung, buah-buahan, umbi-umbian dan beberapa jenis serangga.

Dige memiliki ukuran tubuh lebih pendek dan kecil dari pada boti. Jenis fonti (macaca togeanuuus/balantakensis) yang hanya terdapat di Kepulauan Togean Banggai Barat (balantak). Ketiga jenis monyet tersebut termasuk dari delapan endemik Sulawesi yang mengalami keterancaman dan kepunahan yang disebabkan oleh perburuan petani yang menganggapnya pengganggu tanaman dan penyempitan habitatnya akibat penebangan hutan untuk lahan perkebunan.

Jenis macaca lain di Sulawesi yaitu Dare (Macaca maura) sebarannya di kawasan Sulsel, Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) sebarannya di Sulut, Dihe (Macaca nigrescens) sebarannya di Gorontalo/ Sulut, Hada (macaca ochreata) sebarannya di Sultra, endoke (Macaca brunnescens).Pedesaan monyet biasa di jadikan hewan piaraan dengan terlebih dahulu dirantai atau di kurung untuk diperjual-belikan dan sumber pedaging. Guna menjaga kelangsungan monyet khas Sulawesi, pemerintah telah mengeluarkan aturan perlindungan berdasarkan Undang-Undang no. 5 tahun 1990 diperkuat dengan aturan perlindungan sebelumnya dengan SK Menteri pertanian, tertanggal 29 januari 1970 no. 421/Kpts/um/8/1970 dan di tambah SK Menteri kehutanan, tertanggal 10 juni 1991 no.301/Kpts-II/1991.

Musang Sulawesi dikenal sangat pemberani menjelajah di waktu malam,sedang siang hari dimanfaatkan untuk tidur atau istirahat di bawah pohon yang rindang atau di tempat yang tertutup. Setiap berjalan tidak pernah bergerombol, paling hanya sepasang atau kadang sendirian. Hewan ini Merupakan satu-satunya hewan pemakan daging asli di Sulawesi yang hidup liar di tengah hutan rimba dan kadang bersembunyi di semak-semak untuk menunggu mangsa lewat. Kelebihannya mengintai dan berjalan dibalik semak-semak nyaris tak terdengar, merupakan kelihaian tersendiri dalam menyiasati calon mangsa. Musang sulawesi lebih besar dibandingkan dengan musang yang terdapat ditempat lain, sehingga dianggap musang raksasa. Terdiri dari dua jenis yang diidetifikasikan dari warna kulitnya, yaitu pertama berwarna coklat kehitam-hitaman (Macrogalidia musschenbrokii). Jenis kedua berwarna merah abu-abu (Viverra tangalunga), merupakan jenis yang umum ditemui, bukan hanya di Sulawesi, tapi juga dipulau-pulau lainnya. Selain disebut musang atau Cipet juga memiliki nama lokal sesuai bahasa daerah setempat.

Di sekitar kawasan suaka alam gunung sojol, penduduk di sana menyebutnya Cingkalung dan Hulaku bagi suku Lore di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Sulawesi Tengah. Dibandingkan dengan jenis Viverra tangulanga, jenis Macrogalidea musschenbroekii lebih besar dan panjang seperti anjing kampung mencapai maximal 10 kg dan panjang dari kepala sampai ekor berkisar 130 cm. Paling khas dan termasuk indemik, hampir sama dengan Kus-kus Sulawesi (Phalanger clebensis) yang juga merupakan hewan menyusui khas Sulawesi yang sekerabat beruang.

Sedang jenis Viverra tangalunga, agak kecil dan pendek yaitu sebesar kucing kampung yang dewasa, berat maksimal hanya mencapai 7 kg. Namun keduanya memiliki bentuk dan penampilan fisik mirip kucing kampung, termasuk sifatnya, suka keluar malam dan memiliki hobi memanjat pohon sekedar main-main.sehingga di masukkan sekerabat dengan kucing yang juga menyusui sebagai famili Viverridae perkembangbiakannya dengan cara melahirkan.

Bentuk susunan giginya kecil dan tajam seperti halnya gigi kucing dan memiiliki kuku atau cakar yang tajam di gunakan sebagai senjata menyerang musuh atau menangkap mangsa dan sebagai perekat saat memanjat/mencakar pohon. Pendekar pencuri ayam.

Walaupun sama-sama bisa memanjat pohon seperti kucing, tapi musang Sulawesi dalam memanjat pohon lebih akrobatik dan lincah, waktu memanjat (naik) maupun turun kepalanya tetap terlebih dahulu. Sedangkan kucing umumnya bila menuruni permukaan yang tegak, akan mengalami kesulitan. Keahliannya memanjat dan menuruni pohon dalam bentuk tegak itulah, sehingga diberi gelar hewan pendekar hutan Sulawesi.

Di sulawesi, sebarannya ditemukan (tapi sudah langka) di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), pegunungan Tokalekaju, kawasan Pantai Barat Donggala, Gunung Ambang, Gunung Rantemario Gunung Sojol dan beberapa kawasan lain. Makanannya berupa hewan kecil menyusui seperti tikus, tupai, anak babi, dan burung-burung kecil, ayam serta telur, juga makan buah-buahhan seperti pisang, dan buah palem atau buah enau (arenga pinnata) yang telah masak merupakan buah kegemarannya. Mencari makan pada malam hari, dengan ketajaman penglihatan menembus keglapan malam. Memiliki kemampuan investigasi mencari calon mangsa, dalam jarak beberapa meter bisa terdeteksi.

Sebagian penduduk pedesaan di Sulawesi Tengah mempercayai musang memiliki kekuatan hipnotis, setiap melakukan operasi malam untuk mencari mangsa, walaupun tidak memanjat ketempat ayam yang sedang tidur. Hanya dengan tatapan matanya sambil mengibas-ngibaskan ekornya ke arah ayam yang sedang berada di atas teratak, dalam tempo beberapa menit saja ayam bisa jatuh ke tanah, lalu diterkam hingga dibawa lari ke hutan. Tetapi sebaliknya, predator utamnya adalah sawa atau ular sanca (Phyton reticulates) yang juga banyak terdapat di hutan Sulawesi.

Kegemarannya makan buah palem atau enau mengakibatkan di beberapa kawasan hutan di Sulawesi, banyak ditemui tumbuhan palem sejenis enau. Hal ini menunjukkan, keberadaan tumbuhan ini tidak lepas dari peran musang yang melakukan penyebaran biji-biji enau. Musang yang makan buah enau masak dengan cara ditelan, begitu mengeluarkan kotoran, maka biji enau yang bentuknya bulat keras itu akan diberaki, kemudian tumbuh di mana-mana. Maka petunjuk yang terbaik untuk mengidintifikasi sebaran hewan ini, salah satu cara adalah mencari dimana banyak tumbuhan enau, di situ memungkinkan menjadi habitat musang.

Pohon enau selain menjadi sumber makanan bagi hewan, juga memiliki banyak fungsi bagi kehidupan penduduk setempat, di antaranya penghasil nira (air tuak) yang dapat diolah menjadi gula merah, daunnya dijadikan atap rumah, buahnya yang masih mudah dapat dijadikan manisan dan lainnya.

Menurut cerita masyarakat Behoa di dataran tinggi lore, kabupaten poso, zaman dulu nenek moyang suku ini sangat gemar memelihara musang. Dipelihara seperti anjing yang dimangfaatkan untuk berburu babi hutan (Sus celebenis) dan rusa (cervus timoerensis) dalam hutan. Namun dalam perkembangan pemeliharaannya, sangat menjengkelkan dan terbilang sulit, mesti selalu diberi perhatian yang lebih banyak dibandingkan anjing peliharaan. Tradisi memelihara musang bagi suku Behoa ini sejak awal abad ke 20, sudah di tinggalkan, karena faktor kesulitan, maka hewan ternak yang ada di sekitar rumah jadi sasaran dan tidak segan melukai orang.

Konon nenek moyang Behoa dan Napu memiliki kepercayaan dalam setap memelihara musang hanya diperbolehkan sampai 9 ekor, kalau lebih akan berakibat fatal, musang jadi galak menerkam tuannya (pemelihara). Benar-tidaknya cerita tersebut, sulit di percaya di alam pikiran terkini, tapi begitulah mitos tentang musang bagi suku Behoa, Sulteng zaman dulu.

Data yang dikumpulkan penulis dari kawasan pantai barat Sulawesi Tengah, terutama dekat hutan Desa Balukung, Kecamatan Sojol dan Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, umumnya musang yang terperangkap jerat tidak disengaja.

Kebetualan saja penduduk setempat sering memasang jerat untuk menangkap Ayam hutan (gallus-gallus), tapi justru musang yang sering terperangkap.mengkin disebabkan saat ayam sedang berada didekat jerat tiba-tiba saja musang Yang telah mengintai langsung menerkam ayam, sehingga malah bernasib sial. Semakin langkanya Musang Sulawesi, justru saat ini menjadi daya tarik sebangian orang mulai meliriknya untuk diawetkan dalam kotak kaca sebangai perhiasan souvenir buat pajang di ruang tamu.

Walaupum Musang Sulawesi telah ditemukan 100 Tahun lebih, tapi kini keberadaanya tidak begitu populer dibanding anoa (Bubalus sp) dan Babirusa (Babyroussa babirusa) banyak mengundang minat peneliti.

Chirs Wemmer dan D. Watling, dua ilmuan dari Barat pernah melakukan penelitian kehidupan musang dan habitatnya dikawasan TNLL dan berhasil melakukan pemotretan dengan menggunakan teknologi infra merah, kemudian menghasilkan tulisan; Ekologi and the sulawesi Palm civet, Macrogalidia musschenbroekii (Tahun 1986). Itulah yang kemudian menjadi rujukan konservatoris berikutnya, termasuk dalam penyusunan buku The Ecology of Sulawesi terbitan gajah Mada University Press (Tahun 1987); Anthony J Whitten bersama Muslimin Mustafa dan Gregory S Henderson, hanya sedikit mendiskripsikan tentang musang Sulawesi.

Kuskus Sulawesi (phalanger celebensis) `

Pendekar yang tak kalah uniknya sekaligus makin langka adalah kuskus khas Sulawesi dengan ciri-ciri berbulu tebal seperti beruang, penghuni pohon-pohon di hutan lebat sebagai habitatnya. Khusus kuskus Sulawesi, merupakan jenis paling kecil di antara kuskus yang terdapat di pulau-pulau lain, ukuran panjang badan hanya 34 cm. Mencari makanan buah-buahan dan daun-daun pada malam hari, sehingga disebut pula sebagai hewan malam.

Di pulau Sulawesi (termasuk di pulau Peleng dan Selayar) teridentifikasi ada empat jenis kuskus, yang paling besar disebut kuskus Beruang (Phalanger ursinus) berwarna pirang tua. Kebalikan dari yang kecil, jenis besar ini keluar mencari makan pada siang hari, ukuran yang pernah diidentifikasi yaitu antara kepala-badan sekitar 45 cm dan ekornya 55 cm.

Jenis lain hanya terdapat di Pulau Peleng, Banggai Kepulauan yang disebut Phalanger phalengenis. Ada pula jenis tersendiri yang hanya terdapat di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan yang disebut Phalanger maculates dengan ciri bulu berbintik-bintik. Umumnya memakan buah-buahan, ketimun, pucuk bambu, dan dedaunan.

Kuskus memiliki kemiripan dengan Kungkang khas Amerika Tengah dan Amerika Selatan, secara umum mempunyai kebiasaan bergantung di pohon dengan mengikat ekornya sebagai pengikat.

Ekornya cukup kuat bila merekat di kayu, bahkan berfungsi sebagai alat pengikat dengan melilitkan ujung ekornya pada suatu benda yang lebih berat dari tubuhnya untuk ditarik ke atas pohon. Memiliki gigi yang kuat dan tajam sehingga bila menggigit lawannya, sulot dilepaskan. Kuku cakarnya, selain berfungsi sebagai senjata yang sangat berbahaya bagi musuh yang menyerangnya, juga sebagai perekat saat memanjat pohon kayu.

Hewan menyusui ini sangat liar seperti musang berinsting tajam terhadap makhluk asing, bisa cepat mebghindar atau bersembunyi bila akan membahayakan dirinya, tapi tidak segan-segan melawan saat terdesak.

Di Sulteng umumnya terdapat di kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan beberapa kawasan Konservasi. Nah akankah pendekar-pendekar itu bisa bertahan dalam beberapa tahun ke depan? Tergantung rasa kepedulian manusia melestarikan habitatnya.

Sumber : Media Alkhairat, Nopember 2008