Rabu, Juni 12, 2013
Rabu, Februari 22, 2012
Terumbu karang
Daerah Asia-Mediterania, yaitu laut di dalam dan di sekitar kepulauan Indonesia dari bagian utara Australia sampai bagian selatan cina memilki daerah terumbu karang yang luas, yaitu sekitar 182.000 km2 yang merupakn 30% dari total daerah terumbu karang di dunia. Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia dikenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memilki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk kedalam 75 marga (Wells (1986) dalam Kunarso 2008).
Saat ini, peran terumbu karang sebagai gudang keanekaragaman hayati menjadikannya sebagai sumber penting bagi berbagai bahan bioaktif yang diperlukan di bidang medis dan farmasi, kemampuannya menahan nutrien-nutrien dalam sistem terumbu dan perannya sebagai kolam untuk menampung segala bahan yang berasal dari luar sistem terumbu (Monrow, 2010).
Fungsi utama terumbu karang, bagaikan hutan lebat di daratan dan rumah bagi ribuan jenis hewan laut. Fungsi ekonomisnya, terumbu karang dan hutan mangrove menyediakan bermacam jenis ikan, udang, kepiting dan kerang yang bisa menjadi mata pencaharian utama nelayan (Banjarmasinpost, 2010.
Secara ekologis, terumbu karang mempunyai keterkaitan dengan daratan dan lautan serta ekosistem lain, seperti hutan mangrove dan lamun. Hal ini disebabkan karena terumbu karang berada dekat dengan ekosistem tersebut serta daratan dan lautan. Berbagai dampak kegiatan pembangunan yang dilakukan di lahan atas atau di sekitar padang lamun atau hutan mangrove akan menimbulkan dampak pula pada ekosistem terumbu karang. Demikian pula dengan kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti: kegiatan pengeboran minyak lepas pantai, pembuangan limbah dan perhubungan laut (Kelilaw, 2011).
Pada umumnya komunitas terumbu karang sangat peka terhadap pengaruh kegiatan manusia. Bila kerusakan karang telah terjadi, maka untuk memperbaikinya sangat lambat mengingat kecepatan pertumbuhan karang juga berlangsung lama. Hasil pengamatan para ahli menyebutkan bahwa kecepatan tumbuh berkisar 2 cm/tahun untuk “brain corals” yang massive, misalnya pada jenis Diploria dan Montastrea sampai sekitar 20 cm/tahun untuk karang ranting, misalnya pada jenis Acropora. Pada kondisi terganggunya lingkungan bisa menyebabkan selain menurunnya kecepatan tumbuh, juga kegagalan mekanisme reproduksi yang berujung pada kematian seluruh koloni karang
(Wibisono, 2005).
Konservasi sumberdaya hayati laut merupakan salah satu implementasi pengelolaan ekosistem sumberdaya laut dari keruskan akibat aktivitas manusia. Kawasan konservasi laut mempunyai peranan penting dalam program konservasi sumberdaya alam hayati wilayah laut. Walaupun kawasan ini cenderung lebih baru ditetapkan dibandingkan dengan kawasan konservasi di daerah daratan, namun dibutuhkan keahlian tertentu untuk mengidentifikasi, mendirikan dan mengelolanya. Pemanfaatan sumberdaya alam di lingkungan konservasi laut biasanya diatur melalui zona-zona yang telah di tetapkan kegiatan-kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi, penangkapan ikan dan biota laut lain dengan alat yang merusak lingkungan, serta perusakan lingkungannya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik (Supriharyono, 2007).
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Terumbu Karang
Terumbu karang terdiri dari dua kata, yaitu terumbu dan karang. Terumbu adalah endapan zat kapur hasil metabolisme dari ribuan hewan karang. Jadi dalam seonggok batuan terumbu itu, terdapat ribuan hewan karang yang hidup di dalam celah kecil yang disebut polip. Hewan karang ini bentuknya renik dan melakukan kegiatan pemangsaan terhadap berbagai mikro organisme lainnya yang melayang pada malam hari. Berdasarkan hasil transplantasi karang beberapa jenis memperlihatkan hanya sekitar 1 cm per bulan. Sebagian besar karang hanya hidup di iklim tropis. Hewan-hewan yang karang ini bersimbiosis dengan alga Zooxanthellae (Madduppa, 2008).
Terumbu karang adalah karang yang terbentuk dari kalsium karbonat koloni kerang laut yang bernama polip yang bersimbiosis dehttp://www.google.comngan organisme miskroskopis yang bernama zooxanthellae. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan ekosistem yang sangat penting dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Biasanya tumbuh di dekat pantai di daerah tropis dengan temperatur sekitar 21-30C. Terumbu karang merupakan sumber makanan dan obat-obatan dan melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut (Anonim, 2011).
Terumbu karang adalah struktur hidup yang terbesar dan tertua di dunia. Untuk sampai ke kondisi yang sekarang, terumbu karang membutuhkan waktu berjuta tahun. Tergantung dari jenis, dan kondisi perairannya, terumbu karang umumnya hanya tumbuh beberapa mm saja per tahunnya. Yang ada di perairan Indonesia saat ini paling tidak mulai terbentuk sejak 450 juta tahun silam. Terdapat ribuan spesies yang hidup di kawasan terumbu karang. Namun, hanya sebagian yang menghasilkan kalsium karbonat pembentuk terumbu. Organisme pembentuk terumbu yang terpenting adalah hewan karang (Anonim, 2011).
Terumbu karang (Coral reef ) merupakan masyarakat organisme yang hidup didasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Sedangkan organisme–organisme yang dominan hidup disini adalah binatang-binatang karang yang mempunyai kerangka kapur, dan algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur. Berkaitan dengan terumbu karang di atas dibedakan antara binatang karang atau karang (reef coral) sebagai individu organisme atau komponen dari masyarakat dan terumbu karang (coral reef ) sebagai suatu ekosistem (Sorokin (1993) dalam Dewi 2011).
Terumbu karang merupakan endapan massif (deposit) padat kalsium (CaCO3) yang dihasilkan oleh karang dengan sedikit tambahan dari alga berkapur (Calcareous algae) dan organisme lain yang mensekresikan kalsium karbonat (CaCO3). Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleractina) merupakan penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu (reef –building corals). Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota filum Coelenterata yang hanya mempunyai stadium polip. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, morfologi dan fisiologi (Veron (1995) dalam Dewi 2011).
Ada dua tipe terumbu karang, yaitu karang yang membentuk bangunan kapur (hermatypic corals) dan yang tidak dapat membentuk bangunan karang (ahermatypic corals). Hermatypic corals adalah koloni karang yang membentuk bangunan atau terumbu dari kalsium karbonat(CaCO3), sehingga sering disebut pula reef building corals. Sedangkan ahematypic corals adalah koloni karang yang tidak dapat membentuk terumbu. Berdasarkan geomorfologinya, ekosistem terumbu karang dapat dibagi tiga tipe, yaitu terumbu karang tepi (fringring reef), terumbu karang penghalang (barrier reef), dan terumbu karang cincin (atoll). Terumbu karang tepi tumbuh dari tepian pantai, terumbu karang penghalang dipisahkan dari daratan pantai oleh goba (laggon), dan terumbu karang cincin merupakan terumbu karang yang melingkar atau berbentuk oval yang mengelilingi goba (Supriharyono, 2007).
Penyebaran Terumbu Karang di Indonesia
Daerah Asia-Mediterania yaitu laut di dalam dan di sekitar kepulauan Indonesia dari bagian utara Australia sampai bagian selatan China memilki daerah terumbu karang yang luas, yaitu sekitar 182.000 km2 yang merupakn 30% dari total daerah terumbu karang di dunia. Khusus mengenai terumbu karang, Indonesia di kenal sebagai pusat distribusi terumbu karang untuk seluruh Indo-Pasifik. Indonesia memilki areal terumbu karang seluas 60.000 km2 lebih. Sejauh ini telah tercatat kurang lebih 354 jenis karang yang termasuk ke dalam 75 marga (Wells (1986) dalam Kunarso 2008).
Terumbu karang (Coral Reef) adalah ekosistem khas daerah tropis dengan pusat penyebaran di wilayah Indo-Pasifik. Terbatasnya penyebaran terumbu karang di perairan tropis dan secara melintang terbentang dari wilayah selatan Jepang sampai utara Australia dikontrol oleh faktor suhu dan sirkulasi permukaan (surface circulation). Penyebaran terumbu karang secara membujur sangat dipengaruhi oleh konektivitas antar daratan yang menjadi stepping stones melintasi samudera. Kombinasi antara faktor lingkungan fisik (suhu dan sirkulasi permukaan) dengan banyaknya jumlah stepping stones yang terdapat di wilayah Indo-Pasifik diperkirakan menjadi faktor yang sangat mendukung luasnya pemencaran terumbu karang dan tingginya keanekaragaman hayati biota terumbu karang di wilayah tersebut (Anonim, 2008).
Terumbu karang di Indonesia ditemui sangat berlimpah di wilayah kepulauan bagian timur (meliputi Bali, Flores, Banda dan Sulawesi). Namun juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Indonesia menopang tipe terumbu karang yang bervariasi (terumbu karang tepi, penghalang dan atol). Namun tipe terumbu karang yang dominan di Indonesia ialah terumbu karang tepi. Terumbu karang tepi ini dapat dijumpai sepanjang pesisir Sulawesi, Maluku, Barat dan Utara Papua, Madura, Bali, dan sejumlah pulau-pulau kecil di luar pesisir Barat dan Timur Sumatera. Tipe Patch Reefs (terumbu karang yang mengumpul) paling baik terbentuk di wilayah Kepulauan Seribu, sedangkan terumbu karang penghalang paling baik terbentuk di sepanjang tepi Paparan Sunda, bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean (Sulawesi Tengah). Terdapat pula beberapa atol, contohnya Taka Bone Rate di Laut Flores merupakan atol terbesar ketiga di dunia. Kondisi terumbu Karang Indonesia mengalami penurunan drastis hingga 90% dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan dalam lima puluh tahun terakhir akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Total terumbu karang Indonesia yang mencapai 85.200 km2, terluas ke dua di dunia setelah Great Barrier Reef— itu tercatat 40 persen diantaranya berada dalam kondisi rusak, rusak sedang 24 persen, dan sangat baik hanya enam persen (Iwan, 2009).
Beberapa faktor rusaknya terumbu karang di Indonesia disebabkan karena aktivitas manusia, di antaranya adalah membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut, penggunaan pupuk dan pestisida buatan pada lahan pertanian turut merusak terumbu karang di lautan, boros menggunakan air (semakin banyak air yang digunakan semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan akhirnya mengalir ke laut), membuang jangkar pada pesisir pantai, penambangan pasir atau bebatuan di laut dan pembangunan pemukiman di pesisir, limbah dan polusi dari aktivitas masyarakat di pesisir secara tidak langsung berimbas pada kehidupan terumbu karang, pengambilan karang untuk bahan bangunan dan hiasan akuarium, menangkap ikan di laut dengan menggunakan bom dan racun sianida, dan selain karena kegiatan manusia, kerusakan terumbu karang juga berasal dari sesama mahkluk hidup di laut seperti siput drupella salah satu predator karang (Juliana, 2011).
Karang cenderung memutih apabila suhu meningkat tajam dalam waktu yang singkat atau suhu meningkat perlahan-lahan dalam jangka waktu yang panjang. Gangguan alam yang lain yang dapat menyebabkan pemutihan karang yaitu tingginya tingkat sinar ultra violet, perubahan salinitas secara tiba-tiba, kekurangan cahaya dalam jangka waktu yang lama, dan penyakit. Faktor pengganggu lainnya adalah kegiatan manusia, mencakup sedimentasi, polusi dan penangkapan ikan dengan bahan peledak. Rusaknya terumbu karang mengakibatkan sumber rantai makanan juga hilang. Akibatnya, selain nelayan kian sulit menangkap ikan, udang atau biota laut lainnya, pertumbuhan dari biota tersebut juga lambat (Iwan, 2009).
Peran Terumbu Karang Bagi Ekosistem Pesisir
Ekosistem pesisir (padang lamun, mangrove dan terumbu karang) memainkan peranan penting dalam industri wisata bahari, selain memberikan pelindungan pada kawasan pesisir dari hempasan ombak dan gerusan arus.
Di samping peranannya yang penting, ekosistem terumbu karang Indonesia dipercaya sedang mengalami tekanan berat dari kegiatan penangkapan ikan dengan mempergunakan racun dan bahan peledak. Struktur yang begitu kokoh dari terumbu berfungsi sebagai pelindung sempadan pantai, dan ekosistem pesisir lain (padang lamun dan hutan mangrove) dari terjangan arus kuat dan gelombang besar. Struktur terumbu yang mulai terbentuk sejak ratusan juta tahun yang lalu juga merupakan rekaman alami dari variasi iklim dan lingkungan di masa
silam, sehingga penting bagi penelitian paleoekologi (Anonim, 2009).
Adapun fungsi terumbu karang antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai tempat berteduh (Sheltor) dan tempat mencari makan bagi sebagian
biota Laut.
2. Sebagai penahan erosi pantai karena deburan ombak
3. sebagai cadangan sumber daya alam (Natural Stock) untuk berbagai jenis biota
yang bernilai ekonomi penting.
4. Untuk daerah pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery), dan
pembesaran (rearing) beberapa jenis ikan.
5. Untuk bahan makanan, yaitu berupa ikan, udang-udangan (lobster), octpus,
Kerang-kerangan (oyster), rumput laut, dan sebagainya, (Wibisono, 2005) Oleh : Antri Poster Sianturi, 100302081.
Selain itu, masuh terddapat fungsi terumbu karang lainnya sebagai berikut:
1. Pelindung ekosistem pantai
2. Objek wisata
3. Daerah Penelitian
Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik.
4. Mempunyai nilai spiritual
Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting, Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini (Anonimymous, 2008).
Terumbu karang merupakan sumber makanan dan obat-obatan dan melindungi pantai dari erosi akibat gelombang laut. Terumbu karang memberikan perlindungan bagi hewan-hewan dalam habitatnya termasuk sponge, ikan (kerapu, hiu karang, clown fish, belut laut, dll), ubur-ubur, bintang laut, udang-udangan, kura-kura, ular laut, siput laut, cumi-cumi atau gurita, termasuk juga burung-burung laut yang sumber makanannya berada di sekitar ekosistem terumbu karang. Terumbu karang ditemukan di sekitar 100 negara dan merupakan rumah tinggal bagi 25% habitat laut. Diterumbu karang bagi mereka adalah sebagai tempat bersarang dan memijah (Anonim, 2010).
Terumbu karang (coral refers) merupakan kumpulan masyarakat (binatang) karang ( reef corals ), yang hidup di dasar laut atau perairan, yang berupa batuan kapur, dan mempunyai kemampuan yang cukup kuat menahan gelombang laut. Tingginya produktivitas di perairan terumbu karang memungkinkan perairan ini sering merupakan tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), dan mencari makan ( feeding ground ) dari kebanyakan organism laut, termasuk ikan. Disamping terumbu karang mempunyai potensi di sector perikanan, ekosistem terumbu karang juga mempunyai manfaat yang lain, diantaranya adalah:
1. Sebagai sarana pendidikan yang dapat menumbuh kembangkan rasa cinta laut .
2. Bahan obat-obatan.
3. Bahan-bahan untuk budidaya.
4. Rekreasi.
5. Sebagai wilayah yang berpoten si untuk dikembangkan menjadi kegiatan wisata alam Bahari yang ias menghasilkan devisa.
6. Penghalang pesisir (barrier), mencegah terjadinya erosi pesisir.
7. Bahan-bahan bangunan (Supriharyono, 2007).
Teknik Pemanfaatan Terumbu Karang yang Berkelanjutan
Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang kompleks dan memiliki keragaman biologi yang tinggi. Meskipun memiliki keragaman yang tinggi, namun ekosistem ini tidak stabil dan sensitif terhadap berbagai gangguan, terutama yang berasal dari aktivitas manusia, seperti penangkapan ikan secara tidak ramah lingkungan (Tuwo, 2011).
Pengelolaan, baik sumber daya alam dan energi yang dapat diperbaharui maupun yang tak dapat diperbaharui haruslah secara bertanggung jawab, artinya harus secara bijaksana melestarikan persediaan sumber daya alam dan mineral tersebut sehingga generasi sekarang dan mendatang dapat menikmatinya. Pelaksanaan pengelolaan haruslah sedemikian rupa sehingga sumber daya alam dan energi itu tidak habis, atau kalau dapat selalu ditingkatkan persediaannya dengan usaha-usaha eksplorasi dan eksploitasi, peningkatan efisiensi proses produksi, penggandaan/peningkatan fungsi, serta dengan bantuan teknologi dapat ditingkatkan proses daur ulang (Pradono, 1998).
Dikatakan bahwa sumberdaya mempunyai 3 aspek, ialah yang tergolong alam, manusia, dan kebudayaan. Tinggi-rendah nilai sumberdaya banyak tergantung dari interaksi ketiga aspek tersebut. Suatu benda atau bahan alam baru berfungsi sebagai sumberdaya apabila menjadi kebutuhan manusia. Bahan itu menjadi kebutuhan apabila ada kepentingan manusia terhadapnya dan ada teknologi yang dapat memanfaatkan. Interaksi tersebut melibatkan berbagai ilmu pengetahuan, yaitu yang berhubungan dengan bahan alam tersebut, dengan beserta pengetahuan, sikap, dan kepentingannya, dan dengan teknologi sebagai manifestasi kebudayaannya. Kecuali itu perlu ada pengetahuan tentang eksplorasi, eksploitasi, analisa, prosesing, pemasaran, dan lain-lain. Maka studi lengkap tentang sumberdaya meliputi banyak bidang, ialah:
1. Studi tentang bahan, organisma hidup, keadaan, dan sebagainya yang terdapat di dalam alam.
2. Studi tentang manusia sebagai makhluk tingkat hewan dan tingkat suprahewan, sebagai individu dan sebagai kelompok.
3. Studi tentang kebudayaan manusian dalam segala seginya, termasuk teknologi, lembaga sosial dan politik, sejarah, sifat dan ciri-cirinya, arah perubahannya, dan lain-lain.
4. Studi tentang kegayutan antara ketiga bidang tersebut.
Jadi luaslah masalah yang menyangkut pergumulan tentang selukbeluk sumberdaya (Prawiro, 1983).
Berjuta penduduk Indonesia bergantung sepenuhnya pada ekosistem terumbu karang sebagai sumber pencaharian. Jumlah produksi ikan, kerang dan kepiting dari ekosistem terumbu karang secara lestari di seluruh dunia dapat mencapai 9 juta ton atau sedikitnya 12% dari jumlah tangkapan perikanan dunia. Sumber perikanan yang ditopang oleh ekosistem terumbu karang memiliki arti penting bagi masyarakat setempat yang pada umumnya masih memakai alat tangkap tradisional (LIPI, 2007).
Dalam hal ini metode studi kasus digunakan untuk mengkaji lebih dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan menggunakan teknik survey dalam pengambilan responden, akan memungkinkan model yang digunakan dapat diadopsi untuk penelitian di daerah lainnya. Ekosistem terumbu karang mempunyai nilai ekonomi yang didasarkan atas perhitungan manfaat dan biaya pemanfaatan. Manfaat langsung yang dapat dirasakan dari keberadaan ekosistem terumbu karang adalah perikanan karang. Jumlah panenan ikan, kerang dan kepiting dari terumbu karang secara lestari dapat mencapai 9 juta ton atau sedikitnya 12 % dari jumlah tangkapan perikanan dunia. Berdasarkan pemanfaatan ikan karang konsumsi dengan menggunakan data cross section, nilai ekonomi aktual ekosistem terumbu karang kepualauan Ternate sebesar Rp 21.027.933.840,00 sedangkan nilai manfaat sekarang sebesar Rp 384.542.778,79 dan nilai ekonomi sekarang ekosistem terumbu karang Pulau Ternate sebesar Rp 239.081.334,38 (Erni, 2007).
Selain nilai ekonominya, ekosistem terumbu karang juga merupakan laboratorium alam yang sangat unik untuk berbagai kegiatan penelitian yang dapat mengungkapkan penemuan yang berguna bagi kehidupan manusia. Beberapa jenis spongs, misalnya, merupakan binatang yang antara lain terdapat di ekosistem terumbu karang yang berpotensi mengandung bahan bioakif yang dapat dijadikan bahan obat-obatan antara lain untuk penyembuhan penyakit kanker. Selain itu binatang karang tertentu yang mengandung kalsium karbonat telah dipergunakan untuk pengobatan tulang rapuh. Fungsi lain dari ekosistem terumbu karang yang hidup di dekat pantai ialah memberikan perlindungan bagi berbagai properti yang ada di kawasan pesisir dari ancaman pengikisan oleh ombak dan arus (LIPI, 2007).
Para pemerhati lingkungan juga melontarkan berbagai gagasan, ide dan saran kepada pengambil kebijakan untuk menjaga kondisi terumbu karang agar dapat berfungsi dengan baik. Salah satunya ajakan untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Friends of the Reef (FoR) di beberapa lokasi di Asia Pasifik. Misi utama FoR adalah mengasilkan stategi untuk meningkatkan daya tahan dan daya lenting terumbu karang agar mampu menghadapi ancaman pemanasan global. Baru-baru ini, Presiden Republik Indonesia mengadakan pertemuan di Sydney dan telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya yaitu Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiatif ini mendapat kesan positif dari negara- negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia. Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan upaya mengurangi kemiskinan. Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan saja melainkan seluruh umat manusia di bumi ini. Dengan menanamkan pendidikan kepada masyarakat luas (terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai) mengenai fenomena ini melalui beberapa media seperti leaflet, booklet dan berbagai media komunikasi cetak lainnya perlu disebarkan ke masyarakat, termasuk melalui media eletronik, radio dan televisi. Kemudian adanya penegakan hukum dan partisipasi pesisir dalam menjaga keutuhan wilayah pesisir yang salah satunya dengan mengawasi dan menjaga aktivitas penambangan liar di daerah pesisir yang harus segera dihentikan (DKP Kab. Oki, 2011).
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kerusakan Terumbu Karang
Menurut Ministery of State for Environment (1996), dari luas terumbu karang sekitar 50.000 km2 yang ada di Indonesia diperkirakan hanya 7% terumbu karang yang masih sangat baik, sedangkan 33% baik, 46% rusak dan 15% lainnya kondisinya sudah kritis. Namun tidak dilaporkan apakah kerusakan ini telah menurunkan jumlah jenis karang atau tidak. Namun diperkirakan penurunan jumlah tutupan karang hidup tersebut juga diikuti pula dengan penurunan jumlah jenis karang. Sebagai contoh, karang merah (Tubipora musica), sangat berlimpah pada tahun 1980-an, namun kini jenis tersebut sangat sulit didapatkan
(Supriharyono, 2007).
Walaupun terumbu karang terlihat luas dan merupakan sistem yang sangat stabil, pada atol selama jutaan tahun, sebenarnya mereka mengalami perusakan dalam skala besar oleh berbagai kekuatan. Mungkin sumber terbesar dari terumbu karang adalah perusakan mekanik oleh badai tropik yang hebat. Topan atau angin puyuh yang kuat ketika melalui suatu daerah terumbu sering merusak daerah yang luas di terumbu. Bila terumbu karang banyak yang terletak di zona yang sering dilalui oleh topan atau angin puyuh, maka seluruh atau sebagian dari terumbu akan dirusak atau mengalami kerusakan berat yang besar. Akibat badai ini biasanya disertai kerusakan koloni-koloni sampai ke akar-akarnya dan terangkat dari terumbu, jadi memungkinkan untuk ditempati oleh pendatang baru
(Nybakken, 1988) .
Selain kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan antropogenik, juga ada yang disebabkan oleh pengaruh alam lainnya, misalnya akibat dari perubahan cuaca global El Nino pada tahun 1987-1988 sehingga terjadi peningkatan suhu air laut rata-rata yang berakibat kematian karang melalui tahap pemutihan (bleaching). Laporan dari BPPT diatas juga menyebutkan bahwa di Kep. Seribu 90-95% terumbu karang yang berada pada kedalaman 25 meter mengalami kematian (Wibisono, 2005).
Sumber kedua terbesar yang menyebabkan kematian terumbu, pada tahun-tahun terakhir adalah ledakan populasi bintang laut Acanthaster planci. Sejak1957, ketika mula-mula ditemukannya ledakan populasi, A. Planci menyebabkan bencana kematian terumbu pada banyak tempat di Pasifik Barat. Kemampuan bintang laut dalam merusak daerah yang sangat luas di terumbu sangat dahsyat. Di Guam, Chester (1969) memperkirakan bahwa 90 persen terumbu karang sepanjang 38 km pada garis pantai telah dirusak dalam waktu dua setengah tahun, dan di Great Barrier Reef, Endean (1973) mencatat bagian terbesar dari karang dalam suatu terumbu seluas 8 km2 telah rusak dalam 12 bulan
(Nybakken, 1988) ).
Pada umumnya komunitas terumbu karang sangat peka terhadap pengaruh kegiatan manusia. Bila kerusakan karang telah terjadi, maka untuk memperbaikinya sangat lambat mengingat kecepatan pertumbuhan karang juga berlangsung lama. Hasil pengamatan para ahli menyebutkan bahwa kecepatan tumbuh berkisar 2 cm/tahun untuk “brain corals” yang massive, misalnya pada jenis Diploria dan Montastrea sampai sekitar 20 cm/tahun untuk karang ranting, misalnya pada jenis Acropora. Pada kondisi terganggunya lingkungan bisa menyebabkan selain menurunnya kecepatan tumbuh, juga kegagalan mekanisme reproduksi bisa terjadi dimana seluruh zoox meninggalkan hewan karang yang berujung pada kematian seluruh koloni karang (Wibisono, 2005).
Bentuk-bentuk kerusakan/dampak negatif dari kegiatan manusia bisa berupa antara lain:
1. Pencemaran
2. Membuang sauh/jangkar di lokasi terumbu (anchoraging).
3. Rusak karena terinjak oleh wisatawan (trampling).
4. Pencungkilan karang.
5. Penangkapan ikan karang dengan dinamit.
6. Over eksploitasi produksi terumbu.
7. Buangan bekas jaring/ jala ikan atau gill-net yang kusut sehingga karang terlilit.
8. Pembabatan hutan mangrove tanpa kendali apapun ataupun penghilangan hutan mangrove.
9. Pembangunan di wilayah pesisir tanpa kearifan lingkungan.
(Wibisono, 2005).
Usaha-Usaha Pelestarian dan Konservasi Terumbu Karang
Lautan Indonesia yang luasnya 5,8 juta km2 terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan laut nusantara, dan 2,7 juta km2 zona ekonomi ekslusif. Perairan laut ini merupakan wilayah yang sangat besar di negara Kepulauan Republik Indonesia. Luasnya meliputi 75 % dari seluruh wilayah Indonesia atau 3 kali seluruh luas wilayah daratannya. Bagian paling rawan dari wilayah lautan ini adalah perairan teritorial tempat adanya daerah terumbu karang dan hutan bakau. Kerawanan itu disebabkan oleh tingkat eksploatasi sumber alam yang sangat tinggi di bagian wilayah ini. Daerah pesisir memang merupakan bagian wilayah lautan Indonesia yang paling produktif (Soerjani, 1987).
Berbicara mengenai potensi sumberdaya biologis laut, wilayah indonesia terkenal mempunyai keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, sehingga banyak para wisatawan dari manca negara yang datang ke Indonesia untuk mempelajari aspek ini. Namun disayangkan aktivitas manusia dalam memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada di kawasan pesisir dan laut, sering tanpa mengindahkan konsep pelestarian alam, sehingga yang terjadi potensi tersebut terus menurun. Daerah suaka alam, yang dilindungi tak luput pula dari jamahan mereka, sehingga “biological reserve”, juga ikut rusak. Ekosistem sumberdaya laut, seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang dulu sangat berlimpah, baik jumlah luasnya, individunya, maupun jumlah jenisnya, kini sudah semakin menurun (Supriharyono, 2007).
Apa yang terkandung dari laut dan pantai pesisir ini, tentu saja demi kelangsungan dan dapat dimanfaatkan di masa datang dan perlu ada penjagaan serta pelestarian dari segenap bagsa, baik yang datannya dari pemerintah maupun dari masyarakat. Dari segi pemerintah, sebenarnya telah tercipta beberapa kebijakan dan strategi dalam pemanfaatan, penjagaan, dan pelestarian sumber daya laut. Hanya dalam praktek di lapangan sering terjadi kendala-kendala, terutama dalam mewujudkan apa yng dicita-citakan dalam setiap kebijakan dan strategi yang dicanangkan (Sjamsoeddin, 1997).
Terumbu karang dikenal sebagai salah satu ekosistem yang paling beragam, kompleks dan produktif di muka bumi ini. Setidaknya 794 spesies karang di dunia telah berhasil dideskripsikan oleh para ahli, dan 77% dari karang yang telah diidentifikasi tersebut berlokasi di Asia Tenggara. Terumbu karang memberikan layanan ekosistem yang sangat penting dan memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat pesisir. Belum lagi keuntungan atau manfaat yang tidak bisa dinilai dengan uang, diantaranya sebagai tempat daur ulang nutrien, penyediaan makanan, daerah perlindungan dan pemijahan ikan dan sebagai organisme laut lainnya (Fadli, 2008).
Indonesia sebagai negara berkembang yang mempunyai kekayaan terumbu karang, juga tidak tertinggal dengan negara-negara lain, untuk membuat kebijakan-kebijakan dan strategi-strategi nasional dalam perlindungan dan pengkonversiaan terumbu karang. Apalagi menurut hasil penelitian tim teknis KLH pada tahun 1993, kondisi terumbu karang di Indonesia adalah 14% dalam kondisi kritis, 46 % telah mengalami kerusakan, 33 % kondisinya masih bagus, dan hanya kira-kira 7 % yang kondisinya bagus. Penelitian terhadap kondisi terumbu karang di perairan Indonesia masih sangat sedikit. Menurut Puslitbang Oseanologi-LIPI telah melakukan penelitian terhadap terumbu karang di Indonesia. Dipilih 371 lokasi terumbu karang yang tersebar di kawasan Timur Indonesia (Sjamsoeddin, 1997).
Ancaman terhadap terumbu karang bisa berasal dari alam maupun ancaman dari manusia. Ancaman alami diantaranya: gelombang, badai, tsunami, dan naiknya temperatur air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Namun ancaman/faktor manusia merupakan ancaman yang paling utama terhadap terumbu karang. Karang yang dirusak baik oleh faktor alami maupun faktor manusia umumnya terdegradasi menjadi pecahan karang (rubble) (Fadli, 2008).
Pemanfaatan sumberdaya alam di wilayah pesisir yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan sumberdaya alam itu sendiri. Ada beberapa aktivitas manusia yang diketahui sangat berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan di wilayah pesisir dan laut. Aktivitas-aktivitas manusia tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam, yaitu pemukiman, pertanian, perikanan, industri, pariwisata (bahari), transportasi laut (termasuk pelabuhan (Supriharyono, 2007).
Pengambilan terumbu karang dan pasir pantai untuk bahan bangunan telah melebihi batas yang wajar. Penggunaan bahan peledak dan racun untuk menangkap ikan dan menggali karang menimbulkan berbagai kerusakan. Tindakan tersebut sangat merusak daya dukung lautan, terutama karena dampaknya terhadap kemampuan produksi sumber alam hayati, baik yang berupa ikan, udang kerang-kerangan, maupun yang berupa biota laut lainnya
(Soerjani, dkk., 1987).
Konservasi semberdaya hayati laut merupakan salah satu implementasi pengelolaan ekosistem sumberdaya laut dari keruskan akibat aktivitas manusia. Kawasan konservasi laut mempunyai peranan penting dalam program konservasi sumberdaya alam hayati wilayah laut. Walaupun kawasan ini cenderung labih baru ditetapkan dibandingkan dengan kawasan konservasi di daerah daratan, namun dibutuhkan keahlian tertentu untuk mengidentifikasi, mendirikan dan mengelolanya. Pemanfaatan sumberdaya alam di lingkungan konservasi laut biasanya diatur melalui zona-zona, yang telah di teteapkan kegiatan-kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan, misalnya pelarangan kegiatan seperti penambangan minyak dan gas bumi, penangkapan ikan dan biota laut lain dengan alat yang merusak lingkungan, serta perusakan lingkungannya untuk menjamin perlindungan yang lebih baik (Supriharyono, 2007).
Berdasarkan (Sjamsoeddin, 1997) kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam upaya tetap melestarikan terumbu karang sebagai kekayaan nasional antara lain:
1. Mengupayakan peraturan perundang-undangan bagi perlindungan terumbu karang, sehingga tidak terjadi kekosongan hukum dalam rangka penegakkan hukum bagi pelestarian dan perlindungan terumbu karang.
2. Mengupayakan usaha-usaha peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat bagi pelestarian terumbu karang.
3. Mengupayakan pelatihan, penelitian, dan pendidikan bagi upaya-upaya konservasi terumbu karang.
4. Mengupayakan pengelolaan kawasan konservasi ekosistem terumbu karang agar dapat diupayakan pemanfaatannya secara optimal, dan berdaya guna bagi masyarakat.
Keterkaitan dan Interaksi Ekosistem Terumbu Karang dengan Ekosistem Pesisir Lainnya
Penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah daerah mangrove dan lamun benar-benar secara mutlak (obligat) dibutuhkan oleh ikan karang untuk membesarkan ikan yang masih juvenil ataukah hanya sebagai tempat alternatif (fakulatif) saja untuk memijah. Lokasi penelitian dibagi menjadi 4 jenis biotope (habitat) yang berbeda, yaitu : daerah padang lamun di teluk yang ditumbuhi komunitas mangrove, daerah padang lamun di teluk yang tidak ditumbuhi mangrove (tanpa mangrove), daerah berlumpur di teluk yang ditumbuhi lamun dan mangrove serta daerah berlumpur di teluk yang tidak ditumbuhi lamun dan mangrove (daerah kosong tanpa vegetasi) (Kelilaw, 2011).
Struktur yang begitu kokoh dari terumbu berfungsi sebagai pelindung sempadan pantai, dan ekosistem pesisir lain (padang lamun dan mangrove) dari terjangan arus kuat dan gelombang besar. Struktur terumbu yang mulai terbentuk sejak ratusan juta tahun yang lalu juga merupakan rekaman alami dari variasi iklim dan lingkungan di masa silam, sehingga penting bagi penelitian paleoekologi. Ekosistem ini juga berperan penting dalam siklus biogeokimia secara global, karena kemampuannya menahan nutrien-nutrien dalam sistem terumbu dan perannya sebagai kolam untuk menampung segala bahan yang
berasal dari luar sistem terumbu (Anonim, 2009).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, Nagelkerken et al., (2000) melaporkan bahwa beberapa spesies ikan menggunakan daerah lamun dan mangrove sebagai daerah asuhan tempat membesarkan juvenile (nursery ground). Kelimpahan dan kekayaan jenis (species richness) tertinggi ditemukan di daerah padang lamun dan daerah berlumpur yang sekelilingnya ditumbuhi oleh vegetasi mangrove (Kelilaw, 2011).
Keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan terumbu karang menciptakan suatu variasi habitat yang mempertinggi keanekaragaman jenis organisme. Hal ini membuktikan adanya pengaruh tepi (edge effect) seperti tampak pada penelitian Nagelkerken et al. (2000). Adanya variasi habitat menciptakan daerah tepi yang saling tumpang tindih. Hal ini menimbulkan suatu daerah pertemuan antar spesies sehingga meningkatkan keanekaragaman jenis organisme di daerah tersebut (Kelilaw, 2011).
Dalam hubungannya dengan rantai makanan di ekosistem terumbu karang, selain dimanfaatkan oleh hewan karang batu, plankton merupakan sumber makanan bagi semua ikan di ekosistem tersebut. Terumbu karang juga merupakan tempat hidup bagi berbagai biota laut tropis lainnya. Melalui rantai makanan, yang dimulai dari fitoplankton akan memproduksi jenis-jenis biota yang keanekaragaman tinggi, mulai dari jenis avertebrata air laut hingga bermacam-macam ikan yang bisa dimanfaatkan sebagai panorama dasar laut atau dimanfaatkan untuk konsumsi manusia (Trisyani, 2010).
Secara ekologis, terumbu karang mempunyai keterkaitan dengan daratan dan lautan serta ekosistem lain, seperti hutan mangrove dan lamun. Hal ini disebabkan karena terumbu karang berada dekat dengan ekosistem tersebut serta daratan dan lautan. Berbagai dampak kegiatan pembangunan yang dilakukan di lahan atas atau di sekitar padang lamun atau hutan mangrove akan menimbulkan dampak pula pada ekosistem terumbu karang. Demikian pula dengan kegiatan yang dilakukan di laut lepas, seperti: kegiatan pengeboran minyak lepas pantai, pembuangan limbah dan perhubungan laut (Kelilaw, 2011).
Hutan mangrove sebagai bagian dari hutan tropis yang berada di ekoton antara terrestrial dan laut, tidak secara proporsional didiskusikan dalam siklus karbon global karena luasnya hanya 0,1% luas hutan didunia. Padahal hutan mangrove memiliki peran penting didalam siklus karbon oseanik. Karbon organik dibentuk oleh ekosistem mangrove dan lamun, kemudian dimineralisasi di zona pesisir. Selain itu produksi karbonat dan akumulasi karbon terjadi pula di zona ini oleh ekosistem terumbu karang (Ulumuddin, dkk., 2010).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Tentang Terumbu Karang. http://www.goblue.or.id
[22 Oktober 2011].
Anonim. 2010. Index Karang. http://www.ubb.ac.id [22 Oktober 2011].
Anonim. 2010. Solusi Rehabilitas Terumbu Karang di Indonesia. http://www. munrow.com [22 Oktober 2011].
Anonim. 2008. Ekosistem Terumbu Karang, Definisi, Ragam dan Macam, serta Distribusinya. http://www.ubb.ac.id [26 Oktober 2011]
Anonim. 2009. Fungsi dan Manfaat Terumbu Karang. http://www.scribd.com
[22 Oktober 2011].
Dewi, E. S. 2011. Ekosistem Terumbu Karang. http://www.damandiri.or.id
[ 25 Oktober 2011]
DKP Kab. Oki. 2011. Lestarikan Terumbu Karang Indonesia. http://www.dkp.kaboki.go.id [26 Oktober 2011]
Erni. 2007. Analisis Ekonomi Manfaat Ekosistem Terumbu Karang. http://www.shvoong.com [25 Oktober 2011]
Fadli, Nur. 2008. Tingkat Kelangsungan Hidup Fragmen Karang Acropora formosa yang Ditransplantasikan pada Media Buatan yang Terbuat dari Pecahan Karang (RUBBLE). Universitas Syah Kuala. Banda Aceh.
Iwan. 2009. Oseanografi. http://iwangeodrsgurugeografismamuhammadiyah1
tasikmalaya.yolasite.com [22 Oktober 2011].
Kelilauw, Syah. 2011. Hubungan Ekologis dan Biologis yang Terjadi antara Mangrove, Lamun dan Terumbu Karang. http://www.syahkelilauw.com [25 Oktober 2011].
Kunarso. 2008. Terumbu Karang dalam Masalah dan Terancam Bahaya.
Staf Pengajar Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang.
Maduppa, H. 2008. Terumbu Karang Hewan atau Tumbuhan. http://netsains.com
[22 Oktober 2011].
Nybakken, J. W, 1988. Biologi Laut. PT. Gramedia. Jakarta.
Pradono. 1998. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Energi. BPFE. Yogyakarta.
Prawiro. 1983. Ekonomi Sumberdaya. Penerbit Alumni ITB. Bandung.
Sjamsoeddin, S.B.S. 1997. Tinjaun Terhadap Kebijakan dan Strategi Nasional Konservasi Ekosistem Terumbu Karang. http://www.isjd.pdii.lipi.go.id
[23 Oktober 2011].
Soerjani, Moh., dkk. 1987. Lingkungan Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Supriharyono. 2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah
Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogjakarta.
Trisyani, N., 2010. Kelimpahan Fitoplankton di Lokasi Penanaman Terumbu Karang Buatan Desa Nginmboh, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik. Oseana Volume XXXV, Nomor 2, Tahun 2010 : 39-46, LIPI. Jakarta.
Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian Internasional. Sidoarjo.
Ulumuddin, dkk., 2010. Mangrove dan Lamun Dalam Siklus Karbon Global. Oseana Volume XXXV, Nomor 2, Tahun 2010 : 39-46. LIPI. Jakarta.
Wibisono, M. S, 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Sabtu, Maret 28, 2009
"Tarsius Hewan Endemik Sulawesi"
atu pulau yang memegang peranan penting dalam penyebarann jenis primata di Indonesia yakni Sulawesi dengan 12 jenis Primata endemik, salah satunya adalah marga Tarsius. Tarsius dikenal masyarakat Sulawesi sebagai binatang hantu karena berukuran tubuh kecil dengan mata yang lebar (bolak) dan aktif melakukan kegiatan pada malam hari (nokturnal). Tarsius berukuran tubuh mungil dengan berat 110-120 gr dengan panjang tubuh 115-120 mm. Hewan ini bisa dijumpai di hutan-hutan primer, sekunder bahkan di perkebunan tepi hutan. Tarsius adalah hewan pemangsa berbagai jenis serangga, dengan keunikan hewan ini sebagain besar termasuk hewan yang setia pada pasangannya (monogamus).Tarsius juga hidup secara berkelompok pada pohon-pohon atau semak-semak tetapi tidak bersarang, bergerak dengan meloncat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. berkomunikasi dengan menggunakan suara yang nyaring terhadap kelompoknnya. Hewan ini aktif mencari makan menjelang malam dan pada waktu subuh. Waktu istirahat digunakan pada siang hari. Tarsius meninggalkan air seni pada tempat-tempat yang disinggahi sebagai tanda wilayah kekuasaannya.
Ada beberapa jenis tarsius endemik di bumi Sulawesi antara lain: Tarsius Spectrum, yang dapat di temui di (Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah,Cagar alam tangkoko Sulawesi Utara), Tarsius dianae,Tarsius pumilus yang dapat di temui di (Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah dan di gunung Latimojong Sulawesi Selatan), Tarsius sangiriensis yang hanya bisa di jumpai di (Sangihe dan Talaud Sulawesi Utara).
Tarsius belum dapat dipastikan jumlah populasinya pada Hutan Tropis Sulawesi karena kurangnya data.
Menurut salah seorang pemerhati lingkungan Saudara Rumiyanto S.Pd, Tarsius dapat juga di jumpai di tepi-tepi hutan Kabupaten Buol ini menandakan bahwa hampir semua kawasan hutan khususnya Sulawesi Tengah dihuni Tarsius.
seperti halnya hewan primata endemik Sulawesi lainnya satwa ini dilindung dengan UU No 5 tahun 1990, "Hewan ini dilindung baik di kawasan hutan konservasi maupun di luar kawasan hutan konservasi".
Ancaman utama penurunan populasi Tarsius antara lain akibat dari perburuan dan kegiatan penangkapan dan tidak kalah pentingnya adalah hilangnya habitat alam asli yang diakibatkan oleh penebangan, perambahan hutan dan berubahnya hutan menjadi lahan perkebunan serta kurangnya informasi kepada masayarakat tentang keberadaan hewan primata endemik Sulawesi ini sehingga masyarakat tidak menyadari ternyata hewan yang ditemui secara kebetulan di hutan-hutan tropik Sulawesi adalah hewan Primata endemik Sulawesi.
Mari kita upayakan konservasi !!! untuk melindungi aset yang berharga ini di Bumi Sulawesi. (abang Asho).
Jumat, Maret 20, 2009
Bunglon Hewan Berwarna Warni
Bunglon merupakan salah satu reptil atau hewan bertulang belakang (vertebrata) yang sangat unik dari hewan "vertebrata lain pada umumnya dan reptil pada khususnya", bunglon dapat berubah-ubah warna disesuaikan pada tempatnya. Apabila hewan tersebut tidak terkontaminasi dengan manusia. Dengan perubahan warna tersebut hewan unik ini dapat mengelabui atau selamat dari pemangsa atau predator yang dapat merugikan dirinya. Bunglon memiliki ciri-ciri antara lain memiliki kepala (caput) yang berukuran kurang lebih 2 cm yang dilengkapi dengan mulut (rima oris), telinga (orgarun visus), mata dan lain sebagainya seperti pada reptil-reptil lainnya, memiliki badan yang panjangnya kira-kira 8-12 cm tergantung kedewasaan hewan tersebut, tetapi panjang standar badan adalah 12 cm, yang dilengkapi dengan sirip belakang (pinna dorsalis). Ktika hewan ini terancam oleh predator maka adrenalinnya akan berkontraksi yang akan dihantarkan dengan memperlihatkan atau berdirinya pinna dorsalis (sirip belakang) tersebut.Bunglon Lore yang dilengkapi dengan kaki yang unik, berbeda dengan kaki Toke (gecko gecko), dimana kakidepan pendek dan belakang agak panjang juga memiliki jari-jari yang panjang dan kecil, berfungsiuntuk melekat atau berpegang pada tempatnya. Bunglon atau hewan berubah-ubah warna ini dapatditemukan di ketinggian sekitar 1500-2000 mdpl. yang banyak ditemukan di daerah Taman NasionalLindu (TNLL), yang kemungkinana masih banyak djenis-jenis lain yang tersebar di daerah tersebutbelum ditemukan manusia. Karena kurangnya perhatian masyarakat pada hewan warna warnitersebut juga dengan adanya pengrusakan hutan yang terjadi sekarang secara besar-besaran, makabisa saja hewan ini terancam punah. Dibutuhkan kepedulian kita semua untuk tetap menjagakelestarian hewan yang unik ini dengan upaya konservasi yang berkesinambungan.
"Jagalah Aku Maka Akan Kubuatkan Engkau Hati Yang Senang Dan Jiwa Yang Tenang Dengan Keindahan"
SALAM KONSERVASI!!!!!
(Nawi, Angk III BCC)
Selasa, Maret 10, 2009
Info Keanekaragaman Hayati Indonesia
Dokumen Ini mempunyai keinginan mencapai sasaran terwujudnya masyarakat Indonesia yang peduli, berdaya dan mandiri dalam melestarikan dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara optimal, adil dan berkelanjutan melalui pengelolaan yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pertanyaannya sejauh mana masyarakat sadar akan keanekaragaman hayati bila mereka sendiri tidak mengenal maknanya? Selama ini, keanekaragaman hayati sepertinya menjadi menu kompleks pembicaraan aktivis lembaga swadaya masyarakat, akademisi dan kaum intelek saja. Padahal menurut harapan BAPPENAS, pemahaman terhadap keanekaragaman hayati harus segera di bawah ketingkat 'akar rumput'. Sehingga masyarakat mengerti makna dan manfaat sebenarnya keanekaragaman hayati.
Menurut Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), masyarakat Indonesia Menggunakan lebih dari 940 spesies liar sebagai bahan tanaman obat tradisional maupun modern, juga 100 spesies tumbuh-tumbuhan sebagai sumber karbohidrat, tidak urang dari 100 spesies kacang-kacangan, 450 spesies buah-buahan serta 250 spesies sayur termasuk jamur yang menjadi menu masyarakat sehari-hari. Selain itu ternyata ada 56 spesies bambu dan 150 spesies rotan yang memberi manfaat dan sumber pendapatan ekonomi.
Kekayaan keanekaragaman hayati untuk tumbuhan, misalnya juga di data oleh Yayasan Prosea (Plant Resources of South East Asia-Sumber Tanaman Asia Tenggara), yang mendeskripsikan kekayaan tanaman di Asia Tenggara dan menjadikannya buku hijau dengan jumlah 20 jilid buku. Secara keseluruhan ternyata 40 % nilai ekonomi dunia mengandalkan proses produk keanekaragaman hayati, yaitu yang terkait dengan industri farmasi, kesehatan, pangan, pertanian dan kosmetika yang mengarah pada komersialisasi.
Di Indonesia, menurut BAPPENAS penyusutan keanekaragaman hayati terjadi berbarengan dengan rusaknya hutan alam. Misalnya tahun 1999, didata dari 46,7 juta ha luas hutan produksi, hanya 41 % yang berupa hutan primer. Sedangkan kawasan hutan alam yang rusak di seluruh Indonesia mencapai 43 juta ha, artinya sepertiga dari luas hutan Indonesia yang mengandung keanekaragaman hayati telah musnah. Sekarang ini, ditambah dengan laju rata-rata deforestrasi antara 1,6 hingga 2,4 juta ha/thn. Dengan demikian setiap saat Indonesia akan kehilangan stok genetic (plasma nuftah) keanekaragaman hayati yang dimiliki.
Jumat, Februari 06, 2009
Sumber Daya Alam Morowali Anugerah Atau Bencana?
Masalah kemiskinan dan lingkungan adalah dua masalah yang saling berkaitan. Rendahnya kesejahteraan masyarakat dapat berpengaruh terhadap rusaknya kualitas lingkungan karena dalam upaya mempertahankan hidup orang cenderung merusak lingkungan hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kab. Morowali salah satu kabupaten termuda di Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai kekayaan alam yang luar biasa, hasil hutan, laut, barang tambang baik gas, batubara, minyak dan nikel. Tersedianya SDA ini sangat menarik investor baik lokal maupun internasional, berangkat dari hal tersebut timbul kekhawatiran apakah dengan kekayaan sumberdaya alam ini sebagi anugrah atau malah sebaliknya sebagai bencana?
Perusahaan tambang raksasa dunia mulai menanamkan tajinya dibumi Morowali, kegiatan-kegiatan pendekatan pada PEMDA serta masyarakat lokal termasuk pemberian beasiswa terhadap pelajar dan mahasiswa, keterlibatan para akademisi dalam AMDAl (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Pendekatan ini tak lain dan tak bukan agar perusahaan mereka tidak mendapatkan perlawanan yang berarti untuk mendapatkan tender yang hasil akhirnya berujung pada keuntungan yang sangat besar terhadap perusahaan. Sangat disayangkan apabila pelajar, mahasiswa dan akademisi yang kita harapkan sebagai ujung tombak untuk melawan perusakan lingkungan telah dikondisikan sehingga tidak bisa berbuat banyak terhadap kejahatan lingkungan yang terjadi di Morowali. Marilah sama-sama kita renungkan kembali bencana yang terjadi ditahun-tahun yang lalu berupa banjir, tanah longsor yang banyak memakan korban baik itu harta benda maupun korban nyawa di bumi Morowali bertitik tolak dari hal tersebut setidaknya kita harus lebih bijak terhadap alam ini, karena tanpa eksploitasi terhadap SDA sudah terjadi bencana, bagaimana kalau terjadi eksploitasi kekayaan alam morowali secara besar-besaran? jawabannya adalah bencana yang lebih besar akan terjadi dan masyarakat miskin yang jadi korbannya.
Dampak kekayaan alam terhadap lingkungan hidup sudah harus mulai mendapat perhatian yang lebih besar, kepedulian terhadap lingkungan hidup harus secepatnya dimiliki oleh setiap penduduk agar setiap sumber daya alam yang dimanfaatkan mengalami pelestarian alamiah yang seimbang.(asho)
Jumat, Januari 09, 2009
Selamat Datang di Kota Ebony
Untuk mencapai ’Kota Sehat’, keseimbangan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh setiap Kabupaten/Kota perlu dijaga. Setiap warga mempunyai hak sekaligus kewajiban dalam pemenuhan kebutuhannya, secara jasmani maupun rohani, di mana salah satunya adalah hak untuk menikmati kenyamanan lingkungan hidup tropis perkotaan yang sejuk, nyaman, teduh, dan sehat. Agar dapat terwujud, diperlukan perencanaan tata kota yang baik, sehingga terdapat keseimbangan antara ruang terbangun dan tidak terbangun. Ruang terbuka hijau (RTH) merupakan wilayah yang amat potensial dan dapat dikembangkan sebagai kawasan hijau kota, juga sebagai tempat pemenuhan kebutuhan masyarakat akan sarana rekreatif dan estetika lingkungan, selain sebagai kawasan penyangga ekosistem perkotaan.
Keberadaan hutan kota sebagai salah satu bagian RTH (Ruang Terbuka Hijau) di kawasan perkotaan, menjadi semakin penting akibat tekanan kebutuhan lahan komersial di perkotaan, meningkatnya suhu udara, dan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat akan lingkungan serta ruang-ruang publik di perkotaan. Paradigma kota sehat dapat menjadi pilihan kontekstual untuk pembangunan hutan kota di Indonesia. Para perencana kota dalam hal ini pemerintah daerah Sulawesi Tengah harus mampu menyelesaikan permasalahan perkotaan secara komprehensif. Pemerintah daerah harus memiliki komitmen yang jelas dan konsisten terhadap kebijakan tata ruang yang telah ditetapkan bersama dalam peraturan daerah.
Sejalan dengan hal tersebut pemerintah daerah Sulawesi Tengah perlu perencanaan penghijauan kota yang berkesinambungan baik halaman rumah tinggal, halaman bangunan umum, seperti: perkantoran, kompleks hotel, rumah sakit, dan halaman pendidikan, jalan-jalan umum termasuk kampus perguruan tinggi, serta taman kota. Upaya penghijauan ini semestinya pemda tidak harus mengadopsi atau mencontek konsep-konsep kawasan hijau daerah lain di Indonesia, tetapi memberdayakan potensi dan karakteristik daerah sendiri termasuk tanaman-tanaman asli daerah yang nyata-nyata bisa hidup tanpa perlakuan khusus. Salah satu contoh tanaman asli daerah Sulawesi Tengah yang bisa dijadikan tanaman alternatif penghijauan adalah kayu hitam (Diospyros sp) atau lebih dikenal dengan nama Ebony. Dahulu Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah penghasil ebony (kayu hitam) kualitas nomor satu, yang merupakan sumber devisa unggulan Sulawesi Tengah, namun perlahan karena eksploitasi yang terus menerus tanpa mempertimbangkan daya dukung populasi kayu hitam (Diospyros sp) akhirnya tanaman asli daerah ini semakin jarang ditemui di hutan-hutan Sulawesi tengah, mengingat betapa besarnya nilai ekonomi dari kayu hitam ini selayaknya menjadi tanaman andalan untuk menghijaukan kota sekaligus mengembalikan citra propinsi Sulawesi Tengah sebagai Kota Ebony sekaligus sebagai upaya konservasi karena kayu hitam (Diospyros sp) termasuk tanaman yang sudah langka.
Namun hal ini bisa terlaksana apabila ada keseriusan pemerintah daerah bersama pemerhati lingkungan, civitas akademik serta masyarakat lokal sebagai ujung tombak dalam proses penanaman bahkan pemeliharaan. Kita menyadari bahwa proses penghijauan dengan tanaman kayu hitam tidaklah muda, mengingat kayu hitam termasuk tanaman yang butuh waktu yang cukup lama untuk tumbuh dan berkembang. Apabila saat ini kita belum bisa menikmati rimbunnya kota palu dengan ebony, saya yakin dan percaya apabila hal ini bisa terlaksana dengan baik maka generasi berikutnya akan merasa nyaman, tentram melakukan aktifitas dengan disela-sela rimbunnya pohon ebony (Dospyros sp). Hal yang terpenting diharapkan kota yang kita cintai ini punya ciri khas dibanding kota-kota yang lain di Indonesia bahkan dunia sekaligus mengembalikan citra masa lampau sebagai kota ebony. Alangkah bangganya kita ketika melihat tulisan disetiap pojok kota dengan semboyan ”Selamat Datang di Kota Ebony”
Minggu, Desember 28, 2008
Nepenthes Yang Terusik

Pemerintah melalui undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem dan Peraturan pemerintah no. 7 tahun 1999 tentang jenis-jenis Tumbuhan dan satwa yang dilindungi melarang untuk dieksploitasi. Selain itu semua jenis Nepenthes masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered spesies of Flora Fauna (CITIES), berdasarkan kriteria internasional Union of Conservation of Nature dan Word Conservation Monitoring, Nepenthes digolongkan sebagai tanaman langkah. Tak disangkal bahwa Indonesia adalah merupakan negara yang memberi sumbangsih terbesar terhadap keragaman jenis spesies Nepenthes sp di dunia, dimulai dari Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan P. jawa. Di Sulawesi ditemukan 10 jenis Nepenthes yang tersebar di semua propinsi yang ada di Pulau
r-besaran Nepenthes oleh masyarakat dari habitat alaminya yang berlangsung terus menerus tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan mengakibatkan terganggunya kehidupan Nepenthes baik populasi maupun jenis. Untuk itu saya mengajak kita semua terlibat langsung dalam upaya konservasi, baik konservasi in-situ pengawetan di dalam kawasan Suaka Alam dengan jalan membiarkan populasinya tetap seimbang menurut proses alami habitanya, ataupun melalaui konservasi ex-situ dengan jalan mengupayakan pengawetan di luar kawasan Suaka Alam dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan tersebut. Selain itu perlu upaya yang tidak kalah pentingnya yaitu memberikan informasi kepada masyarakat agar mereka tau apa dan bagaimana sebenarnya Nepenthes sp dan status hukum untuk melindungi keberadaanya dari tangan-tangan jahil yang menggganggu keberadaannya. Biarkanlah Nepenthes Hidup di Habitat Alaminya sebagai warisan yang tak ternilai harganya buat generasi mendatang.
Salam Lestari !!!!
Tiga’Pendekar’ Sulawesi Terancam Punah
Monyet (Macaca Sulawesi)
Macaca Sulawesi hanya terdapat di
Di bukit Bale Kecamatan Banawa tiga tahun lalu masih terlihat bergerombol namun saat ini dengan dibukanya areal perkantoran sehingga tidak pernah terlihat lagi. Jenis Macaca Tonkeana yang biasa disebut ceba atau ibo (Napu), boti (Poso), penyebarannya cukup banyak di Sulawesi Tengah dari batas komunitas Macaca hecki di bagian Selatan hingga kekawasan Kabupaten donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai hingga ke sebagian wilayah Sulawesi Selatan (Palopo Utara). Hidup dalam hutan sampai ketinggian 1800 mdpl. Makanannya berupa pucuk daun, jagung, buah-buahan, umbi-umbian dan beberapa jenis serangga.
Dige memiliki ukuran tubuh lebih pendek dan kecil dari pada boti. Jenis fonti (macaca togeanuuus/balantakensis) yang hanya terdapat di Kepulauan Togean Banggai Barat (balantak). Ketiga jenis monyet tersebut termasuk dari delapan endemik Sulawesi yang mengalami keterancaman dan kepunahan yang disebabkan oleh perburuan petani yang menganggapnya pengganggu tanaman dan penyempitan habitatnya akibat penebangan hutan untuk lahan perkebunan.
Jenis macaca lain di Sulawesi yaitu Dare (Macaca maura) sebarannya di kawasan Sulsel, Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) sebarannya di Sulut, Dihe (Macaca nigrescens) sebarannya di Gorontalo/ Sulut, Hada (macaca ochreata) sebarannya di Sultra, endoke (Macaca brunnescens).Pedesaan monyet biasa di jadikan hewan piaraan dengan terlebih dahulu dirantai atau di kurung untuk diperjual-belikan dan sumber pedaging. Guna menjaga kelangsungan monyet khas Sulawesi, pemerintah telah mengeluarkan aturan perlindungan berdasarkan Undang-Undang no. 5 tahun 1990 diperkuat dengan aturan perlindungan sebelumnya dengan SK Menteri pertanian, tertanggal 29 januari 1970 no. 421/Kpts/um/8/1970 dan di tambah SK Menteri kehutanan, tertanggal 10 juni 1991 no.301/Kpts-II/1991.
Musang Sulawesi dikenal sangat pemberani menjelajah di waktu malam,sedang siang hari dimanfaatkan untuk tidur atau istirahat di bawah pohon yang rindang atau di tempat yang tertutup. Setiap berjalan tidak pernah bergerombol, paling hanya sepasang atau kadang sendirian. Hewan ini Merupakan satu-satunya hewan pemakan daging asli di Sulawesi yang hidup liar di tengah hutan rimba dan kadang bersembunyi di semak-semak untuk menunggu mangsa lewat. Kelebihannya mengintai dan berjalan dibalik semak-semak nyaris tak terdengar, merupakan kelihaian tersendiri dalam menyiasati calon mangsa. Musang sulawesi lebih besar dibandingkan dengan musang yang terdapat ditempat lain, sehingga dianggap musang raksasa. Terdiri dari dua jenis yang diidetifikasikan dari warna kulitnya, yaitu pertama berwarna coklat kehitam-hitaman (Macrogalidia musschenbrokii). Jenis kedua berwarna merah abu-abu (Viverra tangalunga), merupakan jenis yang umum ditemui, bukan hanya di Sulawesi, tapi juga dipulau-pulau lainnya. Selain disebut musang atau Cipet juga memiliki nama lokal sesuai bahasa daerah setempat.
Di sekitar kawasan suaka alam gunung sojol, penduduk di sana menyebutnya Cingkalung dan Hulaku bagi suku Lore di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) Sulawesi Tengah. Dibandingkan dengan jenis Viverra tangulanga, jenis Macrogalidea musschenbroekii lebih besar dan panjang seperti anjing kampung mencapai maximal 10 kg dan panjang dari kepala sampai ekor berkisar 130 cm. Paling khas dan termasuk indemik, hampir sama dengan Kus-kus Sulawesi (Phalanger clebensis) yang juga merupakan hewan menyusui khas Sulawesi yang sekerabat beruang.
Sedang jenis Viverra tangalunga, agak kecil dan pendek yaitu sebesar kucing kampung yang dewasa, berat maksimal hanya mencapai 7 kg. Namun keduanya memiliki bentuk dan penampilan fisik mirip kucing kampung, termasuk sifatnya, suka keluar malam dan memiliki hobi memanjat pohon sekedar main-main.sehingga di masukkan sekerabat dengan kucing yang juga menyusui sebagai famili Viverridae perkembangbiakannya dengan cara melahirkan.
Bentuk susunan giginya kecil dan tajam seperti halnya gigi kucing dan memiiliki kuku atau cakar yang tajam di gunakan sebagai senjata menyerang musuh atau menangkap mangsa dan sebagai perekat saat memanjat/mencakar pohon. Pendekar pencuri ayam.
Walaupun sama-sama bisa memanjat pohon seperti kucing, tapi musang Sulawesi dalam memanjat pohon lebih akrobatik dan lincah, waktu memanjat (naik) maupun turun kepalanya tetap terlebih dahulu. Sedangkan kucing umumnya bila menuruni permukaan yang tegak, akan mengalami kesulitan. Keahliannya memanjat dan menuruni pohon dalam bentuk tegak itulah, sehingga diberi gelar hewan pendekar hutan Sulawesi.
Di sulawesi, sebarannya ditemukan (tapi sudah langka) di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), pegunungan Tokalekaju, kawasan Pantai Barat Donggala, Gunung Ambang, Gunung Rantemario Gunung Sojol dan beberapa kawasan lain. Makanannya berupa hewan kecil menyusui seperti tikus, tupai, anak babi, dan burung-burung kecil, ayam serta telur, juga makan buah-buahhan seperti pisang, dan buah palem atau buah enau (arenga pinnata) yang telah masak merupakan buah kegemarannya. Mencari makan pada malam hari, dengan ketajaman penglihatan menembus keglapan malam. Memiliki kemampuan investigasi mencari calon mangsa, dalam jarak beberapa meter bisa terdeteksi.
Sebagian penduduk pedesaan di Sulawesi Tengah mempercayai musang memiliki kekuatan hipnotis, setiap melakukan operasi malam untuk mencari mangsa, walaupun tidak memanjat ketempat ayam yang sedang tidur. Hanya dengan tatapan matanya sambil mengibas-ngibaskan ekornya ke arah ayam yang sedang berada di atas teratak, dalam tempo beberapa menit saja ayam bisa jatuh ke tanah, lalu diterkam hingga dibawa lari ke hutan. Tetapi sebaliknya, predator utamnya adalah sawa atau ular sanca (Phyton reticulates) yang juga banyak terdapat di hutan Sulawesi.
Kegemarannya makan buah palem atau enau mengakibatkan di beberapa kawasan hutan di Sulawesi, banyak ditemui tumbuhan palem sejenis enau. Hal ini menunjukkan, keberadaan tumbuhan ini tidak lepas dari peran musang yang melakukan penyebaran biji-biji enau. Musang yang makan buah enau masak dengan cara ditelan, begitu mengeluarkan kotoran, maka biji enau yang bentuknya bulat keras itu akan diberaki, kemudian tumbuh di mana-mana. Maka petunjuk yang terbaik untuk mengidintifikasi sebaran hewan ini, salah satu cara adalah mencari dimana banyak tumbuhan enau, di situ memungkinkan menjadi habitat musang.
Pohon enau selain menjadi sumber makanan bagi hewan, juga memiliki banyak fungsi bagi kehidupan penduduk setempat, di antaranya penghasil nira (air tuak) yang dapat diolah menjadi gula merah, daunnya dijadikan atap rumah, buahnya yang masih mudah dapat dijadikan manisan dan lainnya.
Menurut cerita masyarakat Behoa di dataran tinggi lore, kabupaten poso, zaman dulu nenek moyang suku ini sangat gemar memelihara musang. Dipelihara seperti anjing yang dimangfaatkan untuk berburu babi hutan (Sus celebenis) dan rusa (cervus timoerensis) dalam hutan. Namun dalam perkembangan pemeliharaannya, sangat menjengkelkan dan terbilang sulit, mesti selalu diberi perhatian yang lebih banyak dibandingkan anjing peliharaan. Tradisi memelihara musang bagi suku Behoa ini sejak awal abad ke 20, sudah di tinggalkan, karena faktor kesulitan, maka hewan ternak yang ada di sekitar rumah jadi sasaran dan tidak segan melukai orang.
Konon nenek moyang Behoa dan Napu memiliki kepercayaan dalam setap memelihara musang hanya diperbolehkan sampai 9 ekor, kalau lebih akan berakibat fatal, musang jadi galak menerkam tuannya (pemelihara). Benar-tidaknya cerita tersebut, sulit di percaya di alam pikiran terkini, tapi begitulah mitos tentang musang bagi suku Behoa, Sulteng zaman dulu.
Data yang dikumpulkan penulis dari kawasan pantai barat Sulawesi Tengah, terutama dekat hutan Desa Balukung, Kecamatan Sojol dan Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, umumnya musang yang terperangkap jerat tidak disengaja.
Kebetualan saja penduduk setempat sering memasang jerat untuk menangkap Ayam hutan (gallus-gallus), tapi justru musang yang sering terperangkap.mengkin disebabkan saat ayam sedang berada didekat jerat tiba-tiba saja musang Yang telah mengintai langsung menerkam ayam, sehingga malah bernasib sial. Semakin langkanya Musang Sulawesi, justru saat ini menjadi daya tarik sebangian orang mulai meliriknya untuk diawetkan dalam kotak kaca sebangai perhiasan souvenir buat pajang di ruang tamu.
Walaupum Musang Sulawesi telah ditemukan 100 Tahun lebih, tapi kini keberadaanya tidak begitu populer dibanding anoa (Bubalus sp) dan Babirusa (Babyroussa babirusa) banyak mengundang minat peneliti.
Chirs Wemmer dan D. Watling, dua ilmuan dari Barat pernah melakukan penelitian kehidupan musang dan habitatnya dikawasan TNLL dan berhasil melakukan pemotretan dengan menggunakan teknologi infra merah, kemudian menghasilkan tulisan; Ekologi and the sulawesi Palm civet, Macrogalidia musschenbroekii (Tahun 1986). Itulah yang kemudian menjadi rujukan konservatoris berikutnya, termasuk dalam penyusunan buku The Ecology of Sulawesi terbitan gajah Mada University Press (Tahun 1987); Anthony J Whitten bersama Muslimin Mustafa dan Gregory S Henderson, hanya sedikit mendiskripsikan tentang musang Sulawesi.
Kuskus Sulawesi (phalanger celebensis) `
Pendekar yang tak kalah uniknya sekaligus makin langka adalah kuskus khas Sulawesi dengan ciri-ciri berbulu tebal seperti beruang, penghuni pohon-pohon di hutan lebat sebagai habitatnya. Khusus kuskus Sulawesi, merupakan jenis paling kecil di antara kuskus yang terdapat di pulau-pulau lain, ukuran panjang badan hanya 34 cm. Mencari makanan buah-buahan dan daun-daun pada malam hari, sehingga disebut pula sebagai hewan malam.
Di pulau Sulawesi (termasuk di pulau Peleng dan Selayar) teridentifikasi ada empat jenis kuskus, yang paling besar disebut kuskus Beruang (Phalanger ursinus) berwarna pirang tua. Kebalikan dari yang kecil, jenis besar ini keluar mencari makan pada siang hari, ukuran yang pernah diidentifikasi yaitu antara kepala-badan sekitar 45 cm dan ekornya 55 cm.
Jenis lain hanya terdapat di Pulau Peleng, Banggai Kepulauan yang disebut Phalanger phalengenis.
Kuskus memiliki kemiripan dengan Kungkang khas Amerika Tengah dan Amerika Selatan, secara umum mempunyai kebiasaan bergantung di pohon dengan mengikat ekornya sebagai pengikat.
Ekornya cukup kuat bila merekat di kayu, bahkan berfungsi sebagai alat pengikat dengan melilitkan ujung ekornya pada suatu benda yang lebih berat dari tubuhnya untuk ditarik ke atas pohon. Memiliki gigi yang kuat dan tajam sehingga bila menggigit lawannya, sulot dilepaskan. Kuku cakarnya, selain berfungsi sebagai senjata yang sangat berbahaya bagi musuh yang menyerangnya, juga sebagai perekat saat memanjat pohon kayu.
Hewan menyusui ini sangat liar seperti musang berinsting tajam terhadap makhluk asing, bisa cepat mebghindar atau bersembunyi bila akan membahayakan dirinya, tapi tidak segan-segan melawan saat terdesak.
Di Sulteng umumnya terdapat di kawasan Taman Nasional Lore Lindu dan beberapa kawasan Konservasi. Nah akankah pendekar-pendekar itu bisa bertahan dalam beberapa tahun ke depan? Tergantung rasa kepedulian manusia melestarikan habitatnya.
Sumber : Media Alkhairat, Nopember 2008